Nama : Ramadana Desta Ratnasari
NIM : 175120201111020
Kelas : D-2 Dasar-dasar Public
Relation
Soal
1) Jelaskan mengapa perilaku anggota organisasi bisa
mempengaruhi organisasi. Kaitkan dengan dua pendekatan PR disertai contoh
2) Mengapa publisitas penting bagi humas
3) Bagaimana sikap anda terkait nama humas dan PR
4) Jelaskan fungsi dan bidang pekerjaan humas. Beri
contoh!
5) Jelaskan faktor yang mempengaruhi publisitas
Jawab:
1)
Organisasi merupakan kumpulan dari orang-orang yang bekerja
dalam suatu ikatan atau sistem guna mencapai tujuan tertentu. Menurut Schmidt,
lembaga atau
institusi merupakan sekumpulan orang yang memiliki hubungan yang teratur dengan
memberikan definisi pada hak, kewajiban, kepentingan, dan tanggungjawab
bersama.
Sedangkan Perusahaan adalah rangka dasar sebagai tempat orang-orang
melangsungkan kegiatannya untuk menerima, menyimpan, mengolah, dan menyajikan
informasi. Setiap
manusia memiliki karakteristik tersendiri. Perilaku anggota organisasi
mempengaruhi organisasi, hal ini disebabkan setiap individu merupakan PR bagi
dirinya sendiri dan perusahaan. Setiap individu terutama yang bekerja atau
terjun dalam organisasi , lembaga, maupun perusahaan, masing-masing membawa
citra dan reputasinya. Citra dan reputasi individu membawa serta citra
organisasi, lembaga, maupun organisasi disebabkan mereka mewakili perusahaan
tersebut (Bab II Tinjauan Pustaka, 2011). Pendekatan Public Relations terbagi menjadi dua yakni Public Relation sebagai
metode komunikasi dan Public Relations
sebagai teknik komunikasi. Public
Relations merupakan fungsi manajemen komunikasi. Pendekatannya dengan
metode komunikasi ialah metode komunikasi atau metodis yang memiliki arti
bekerja atau aktivitasnya yang terstruktur seperti departemen Public Relations, manajer Public Relations, staff publikasi,
Internal Publik Relation, kepala bagian, dan lain-lain. Sedangkan menurut
teknik komunikasi, kalimat yang paling melekat dengannya ialah “Public Relations pada diri sendiri”.
Kita membawa citra organsasi, memPRkan diri berarti memPRkan organisasi.
Persepsi atau pandangan orang terhadap suatu lembaga, organisasi, maupun
perusahaan tidak hanya dilihat dari tempatnya, melainkan melihat pulu bagaimana
orang-orang yang terkait atau bekerja dengan lembaga, organisasi, maupun
perusahaan tersebut. Apabila perilaku atau hasil kerja dari seorang PR dinilai
baik oleh publik terutama masyarakat, maka pandangan atau persepsi publik akan
baik pula. Sebaliknya, apabila pekerjaan kita maupun aktivitas anggota
organisasi, lembaga, maupun perusahaan kita dinilai buruk, maka persepsi atau
pandangan orang akan berimbas buruk pula. Dalam kaitan menjalankan fungsi
membina saling pengertian dengan publiknya menurut Indrawadi Tamin (2004) ada
empat peran yang dapat dimainkan oleh PR (Satlita, 2017), yaitu:
1. Interpreter atau in the middle, yaitu
PR berperan sebagai sumbu antara manajemen dengan publik internal maupun
eksternal. PR harus mampu menginterpretasikan dinamika dan kebutuhan serta perilaku
publik terhadap manajemen dan sebaliknya. Untuk bisa memikul peran ini, PR
harus punya akses pada manajemen bahkan top manajemen.
2. Lubricant, pelumas atau pelicin untuk
terciptanya hubungan internal yang harmonis dan efisien. Peran ini memungkinkan
PR mencegah timbulnya kemungkinan friksi-friksi atau perpecahan dalam
organisasi.
3. Monitoring dan Evaluasi. Peran ini untuk
mengantisipasi setiap perubahan yang mungkin saja berdampak negatif terhadap
organisasi.
4.
Komunikasi. komunikasi dilakukan baik pada publik eksternal maupun internal
untuk terciptanya saling pengertian.
Untuk mengetahui bagaimana sesorang
harus berperilaku PR pribadinya sendiri maupun kepentingan organisasi. Maka
penting kiranya, membahas etika yang benar sebagai Public Relations. Bagi sebuah organisasi yang menjalankan kegiatan
bisnis, politik, pemerintahan, ekonomi, industri dan lain sebagainya tentunya
membutuhkan kehadiran Public Relations
yang piawai untuk membangun citra positif di benak publik sehingga akhirnya
mampu membentuk opini publik. Kepiawaian praktisi Public Relations dalam membangun citra positif suatu organaisasi
tentunya tidak hanya sekedar lip service semata namun harus diikuti dengan
kemampuan dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dalam buku Ethics
in Public Relations A Guide to Best Practice, Patricia J. Parsons
(2008 : 20 – 21) menyatakan bahwa terdapat 5 (lima) prinsip atau pilar etika public
relations (Ambar,
2017), yaitu :
1.
Veracity (to tell the truth)
2.
Non-maleficence (to do no harm)
3.
Beneficence (to do good)
4.
Confidentiality (to respect privacy)
5.
Fairness (to be fair and socially responsible)
2)
Publisitas penting bagi Humas, hal ini disebakan
salah satu peran HUMAS dan peran terbesarnya ialah sarana membangun citra dan
reputasi positif lembaga. Citra dengan reputasi merupakan dua hal yang berbeda,
citra merupakan anggapan orang terhadap apa yang kita lakukan, sedangkan
reputasi ialah apa yang kita lakukan sejalan dengan apa yang kita katakan, seperti
pepatah yang mengatakan “we are nothing
if no one knows you”. Publisitas erat kaitannya dengan media, hal ini
disebabkan HUMAS dengan media merupakan mitra atau partner kerja yang memilliki
simbiosis mutualisme. Publisitas membutuhkan media sebagai pihak ketiga atau
media yang digunakan oleh HUMAS, sebab orang ketiga lebih dipercaya dalam
menyampaikan suatu informasi dibandingkan dengan HUMAS yang menyampaikan
informasi itu sendiri. Publisitas membutuhkan coverage luas, channel menerima
umpan balik. HUMAS merupakan journalist in residence artinya HUMAS ialah
wartawan yang mencari dan menyediakan informasi organisasi di wilayahnya saja.
Selain itu, HUMAS juga merupakan sumber berita terpercaya yang dapat dijadikan
bahan berita oleh wartawan atau media. Di sisi lain, media menjalankan public right to know dan tentunya
membutuhkan sumber berita. Publisitas juga penting dalam membawa citra dan
reputasi organisasi, lembaga, maupun perusahaan. Reputasi organisasi, lembaga,
maupun perusahaan yang buruk dalam hal ini biasa disebut dengan cacat produk,
dapat dikembalikan atau dijadikan positif dengan melakukan publisitas. Cara
tersebut dapat dilakukan dengan mengambil prinsip-prinsip HUMAS menurut Kriyantono
(2008, h.77), yaitu:
1)
Jangan menutup informasi atau menyangkal
2)
Jangan sampai mengatakan “no comment”
3)
Telling the truth secara terbuka, jelaskan akan tetapi jangan sampai harga diri
dan reputasi organisasi, lembaga, maupun perusahaan dibuat lebih jatuh lagi.
Kemudian, dalam publisitas terdapat
tantangan dalam Pers atau media dan tantangan bagi HUMAS dan PR yakni sebagai
berikut :
Tantangan
Pers atau media
1)
Fokus pada rumor
2)
News value
3)
Sensasi
4)
Berita negatif dianggap lebih menarik
Tantangan
bagi HUMAS dan Public Relations
1)
Publisitas positif
2)
Superelatif puff
3)
Promosi atau memperkenalkan
4)
Berita positif
Lalu, terdapat perbedaan antara
publisitas dengan publikasi. Publisitas ialah publikasi yang dimuat di media
massa, sedangkan publikasi ialah segala bentuk memperkenalkan diri kita atau
organisasi ke publik. Publisitas pun memiliki ciri-cirinya tersendiri Kriyantono
(2008, h.49) yakni :
1)
Mengandung kredibilitas tinggi karena disampaikan oleh pihan ketiga yang
notabene lebih dipercaya orang
2)
Publisitas tidak membayar
3)
Publisitas menyajikan informasi detail
3)
Dapat menjelaskan cacat produk
5)
Tidak dapat dikontrol
6)
Tidak dapat mengontrol informasi apa yang diterbitkan
7)
Non personal communication, sifatnya hanya komunikasi satu arah yaitu publik
membaca berita.
Setelah
itu, terdapat faktor penentu Publisitas Kriyantono (2008, h.70), yaitu :
1)
Faktor penulisan materi publisitas ( teknik Public
Relations Writing)
2)
Faktor kualitas hubungan media ( media-relations)
Dewasa
ini, antara publisitas dengan iklan seperti serupa tapi tak sama, akan tetapi
keduanya tetap berbeda. Saat ini iklan disajikan dalam bentuk advertorial atau
iklan dalam berita. Namun publik atau manusia memiliki mekanisme defensif,
ketika seseorang bertemu iklan responnya mengacuhkan. Melihat perbedaannya
yakni dengan melihat keterang dibawahnya seperti (.../adv). Rupanya dalam ranah
komunikasi bisnis, para pembuat iklan ini lebih cerdik lagi, kini muncul hidden
advertising dimana tidak ada keterang tentang iklan tersebut sehingga publik
seolah ‘ditipu’ dengan iklan yang dibalut dengan berita tersebut.
3) Sikap terkait nama Hubungan Masyarakat
(disingkat HUMAS) dan Public Relations
(disingkat PR), menurut saya memang harus dibedakan. HUMAS dan Public Relations di mata masyarakat,
mayoritas masih mengganggapnya dua hal yang sama, padahal tidak. Belum lagi
image atau citra bahwa HUMAS atau Public
Relations harus berpenampilan menarik. Memang hal tersebut tidak salah,
hanya saja kurang tepat. Hal ini dapat menyebabkan pandangan publik maupun
masyarakat terhadap HUMAS atau Public
Relations mendapatkan stigma negatif. Perilaku orang dipengaruhi label yang
mempengaruhinya, secara etimologis, HUMAS dan Public Relations merupakan hal yang berbeda. Kriyantono (2008, h.4)
menjelaskan bahwa arti kata “public”
dalam Public Relations berbeda dengan
kata “masyarakat” dalam Hubungan Masyarakat. Publik sebagai ranah Public Relations bekerja, mengganggap
internal yakni perusahaan dan eksternalnya diluar perusahaan merupakan wilayah
bertugasnya. Lebih lanjut Kriyantono (2008, h.4) menjelaskan publik memiliki
kepentingan atau perhatian yang sama terhadap sesuatu hal dengan cirinya yaitu:
a.
Mempunyai kepentingan atau perhatian yang sama terhadap suatu isu atau objek
tertentu. Kepentingan atau perhatian ini yang mengikat anggota publik secara
emosional
b.
Tidak harus berada dalam suatu wilayah geografis. Publik bisa berada dalam
tempat yang berjauhan dan tidak saling mengenal (anonim). Contoh publik :
penggemar acara “Mata Najwa” Najwa Shihab di Trans7. Penggemar tersebut
memiliki perhatian yang sama terhadap acara tersebut baik dari segi topik
maupun narasumber dan tempat tinggal para penggemar ini dapat berbeda kota.
Perbedaan lain yang mendalam mengenai Publik internal dan eksternal
menurut Kriyantono (2008, h.4) yang
menjelaskan publik internal adalah publik yang berada dalam organisasi tempat Public Relations bekerja, misalnya
karyawan dan keluarganya maupun pihak manajemen (CEO, direksi, manajer, dan
stockholders). Sedangkan publik eksternal antara lain konsumen atau pelanggan,
komunitas, kelompok-kelompok masyarakat (kelompok penekan atau pressure group,
lembaga swadaya masyarakat), pemerintah, bank, pemasok, media massa, dan
sebagainya. Inti dari Public Relations
ialah adanya hubungan, dalam melakukan kegiatanya, hubungan Public Relations ini dikenal dengan
internal relations dan external relations. Merujuk pada hal-hal yang telah
dijelaskan di atas, maka istilah Hubungan Masyarakat dengan Publik Rrelations
jelas memiliki perbedaan, sebab HUMAS memandang hanya masyarakat sebagai ranah
kerjanya, sehingga masyarakat yang berkedudukan sebagai wilayah eksternalnya
harus dilayani. Seperti pada hasil survei kami terhadap mahasiswa ilmu
komunikasi angkatan 2013-2016 mengenai pemahaman mereka tentang Public Relations dan HUMAS terutama
mengenai perbedaannya. Pada kuisioner yang kami sebarkan kepada 100 mahasiswa
jurusan ilmu komunikasi Universitas Brawijaya (UB) mengenai pemahaman tentang Public Relation (PR) angkatan 2013-2016 (Riset, 2018). Kuisioner ini bersifat semi
terbuka. Kuisioner ini terdiri atas sembilan pertanyaan. Dari survei yang telah
kami lakukan mengenai pemahaman tentang Public
Relation (PR) di kalangan
mahasiswa jurusan ilmu komunikasi angkatan 2013-2016. Disimpulkan dari data
tersebut lebih lanjut, mahasiswa ilmu komunikasi baik laki-laki maupun
perempuan cenderung menganggap Public
Relations dan HUMAS di Indonesia merupakan dua hal yang sama. Hal ini
disebabkan menurut mereka aktivitas kerjanya serupa dan tidak jauh berbeda,
yang berbeda hanya penyebutannya. Lebih spesifik lagi bahkan menurut mereka
HUMAS adalah terjemahan dari kata Public
Relations dalam bahasa inggris. Tentunya hal ini seharusnya di luruskan,
mengingat label atau cap yang tertempel pada seseorang akan mempengaruhi pula
kinerjanya. Untuk itu, sebagai mahasiswa yang mempelajari dasar-dasar Public Relations penting untuk mengingat
perbedaan ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja
nantinya.
4) Fungsi dan bidang perkerjaan
HUMAS secara umum fungsi Public Relations dan Humas sama. Fungsi menurut Kriyantono (2008,
h.21) adalah harapan publik terhadap apa yang seharusnya dilakukan oleh Public Relations sesuai dengan kedudukannnya
sebagai Public Relations. Sehingga,
fungsi dari HUMAS itu sendiri adalah harapan masyarakat agar seseorang
berperilaku sesuai kedudukannya. Fungsi Public
Relations maupun HUMAS lebih lanjut menurut Kriyantono dibagi menjadi dua yakni
fungsi manajerial atau peran manajerial dan fungsi teknis atau peran teknis.
Fungsi managerial atau manajer Public
Relations menurut Kriyantono adalah expert prescriber yang memiliki arti
mendeskripsikan sesuatu yang belum terjadi, mengidentifikasi isu (mendiagnosa
isu) dalam perannya memanajemen isu, membuat program maupun aturan sebagai
solusi masalah. Sederet penjelasan diatas mengenai fungsi manajer salah satu
unsur yang perlu di garis bawahi adalah mendiagnosa isu. Cara mendiagnosa isu
dapat dilakukan denga media monitoring, FGD, survei, dan blusukan atau MBWA
(Managing by walking around). Kemudian fungsi teknis seperti ang telah
disebutkan merupakan peran teknis atau teknisi komunikasi dan dapat dilakukan
dengan menjadi communication facilitator dan problem solving facilitator.
Menurut Kriyantono (2008, h.21) juga dijelaskan secara garis besarnya fungsi
dari Public Relations atau HUMAS
antara lain :
a.
Memelihara komunikasi yang harmonis anatara perusahaaan dengan publiknya (maintain good communication).
b.
Melayani kepentingan publik dengan baik (serve
public’s interest)
c.
Memelihara perilaku dan moralitas perusahaan dengan baik (maintain good morals & manners).
Kemudian bidang atau ruang lingkup
suatu dimensi dimana HUMAS dapat melakukan kegiatan atau aktivitasnya menurut Kriyantono
(2008, h.23) dirumuskan dengan kata PENCILS untuk mempersingkat dan mempermudah
mengingat serta memahaminya. Unsur-unsur PENCILS dapat dijabarkan, sebagai
berikut :
a.
Publication & Publicity, yaitu
mengenalkan perusahaan kepada publik dalam hal ini, masyarakat. Misalnya
membuat tulisan yang disebrkan ke media, newsletter, artikel, dan lainnya.
Events, mengorganisasi event atau kegiatan sebagai upaya membentuk citra.
Misalnya stasiun televisi SCTV menggelar acara SCTV Award. Program televisi untuk
para artis atau selebriti, pemain film, penyanyi, atau orang-orang yang dinilai
masayarakat merupakan orang yang terkenal maupun banyak digemari di dunia
entertain yang kemudian akan mendapat penghargaan dari SCTV.
c.
News, kegiatan untuk menghasilkan
produk-produk tulisan yang sifatnya menyebarkan informasi kepada publik,
seperti presss release, newsletter, berita, dan lain-lain. Karena itu, dituntut
menguasai teknik-teknik menulis (public
relations writing).
d.
Community Involvement, HUMAS membuat
program-program yang ditujukan untuk menciptakan keterlibatan komunitas atau
masyarakat sekitarnya. Misalnya, dalam program kerja BEM Fisip UB dalam
Kementrian Sosial dan Masyarakat mengadakan Sambang Deso yang tentunya
melibatkan warga desa tertinggal yang dituju. Salah satu rangkaian acara mereka
ialah kegiatan Live In yang biasanya
dilaksanakan pada bulan Agustus. HUMAS sebisa mungkin memposisikan diri dan
mengatur panitia Sambang Deso menjadi bagian dari masyarakat. Harapannya,
panitia yang akan melaksanakan prokernya ini dapat memunculkan sense of belonging dalam masyarakat
desanya.
e.
Identity-Media, merupakan pekerjaan
public relations atau HUMAS dalam membina hubungan dengan media (pers). Sangat
penting untuk memperoleh publisitas media.
f.
Lobbying, Public Relations dalam hal ini HUMAS sering melakukan upaya
persuasi dan negosiasi dengan berbagai pihak. Biasanya keahlian ini dibutuhkan
apabila terjadi krisis manajemen agar pihak yang bertikai dapat kembali sepakat
alias damai.
g.
Social Investement, pekerjaan Public Relations untuk membuat
program-program yang bermanfaat bagi kepentingan dan kesejahteraan sosial.
Bidang HUMAS yang melingkupi
fungsinya, bidang Hubungan Masyarakat, mempunyai fungsi:
- Pelaksanaan koordinasi dan fasilitasi penyelenggaraan pemerintahan di bidang kehumasan dan informasi kebijakan
- Penyusunan pedoman dan petunjuk teknis pelaksanaan dan pembinaan hubungan masyarakat.
- Penyiapan informasi dan komunikasi serta pelaksanaan kegiatan pembinaan terhadap kelompok komunikasi sosial masyarakat;
- Penyelenggaraan koordinasi pelaksanaan pelayanan dan penyampaian informasi dan komunikasi melalui penerbitan (media cetak), radio, televisi dan film;
- Pelaksanaan koordinasi dan kerjasama dalam pelaksanaan program dan kegiatan pemyampaian informasi dan komunikasi dengan media informasi
- Penyiapan data dan pelaksanaan kegiatan liputan, pemberitaan, pengumpulan informasi dan pendokumentasian serta komunikasi
HUMAS dapat terjun ke dalam bidang pekerjaan seperti :
1) Layanan masyarakat
2) Advokasi dan kesejahteraan
3) Publikasi
4) Sponsorship
Contohnya, ketika sesorang mencari informasi terkait
beasiswa perusahaan, HUMAS hadir sebagai wadah informasi guna pengambilan
formulir, informasi jadwal, dan update informasi terbaru dari perusahaan yang
memeberikan beasiswa, juga sebagai pengubung antara calon beasiswa dengan
perusahaan.
5) Faktor yang
mempengaruhi Publisitas seperti yang telah dijelaskan di nomor dua dan empat
terdapat dalam buku Kriyantono (2008, h.70). Faktor
atau tantangan yang melingkupi publisitas adalah faktor penulisan materi
publisitas (teknik Public Relations
Writing) dan faktor kualitas hubungan media (media-relations). Penulisan
materi publisitas (teknik public
relations writing) berguna sebagai sarana publikasi dan publisitas media.
Artinya, materi publisitas informasi yang akan dikirim dan dimuat di media
ditulis oleh Public
Relations. Apabila dimuat media, dalam bentuk berita maka disebut sebagai produk
jurnalistik. Sehingga, dalam penulisannya perlu memenuhi kaidah-kaidah
jurnalistik. Public Relations
dituntut tidak hanya memiliki skill menulis, tetapi juga menguasai
teknik-teknik menulis sesuai dengan kaidah jurnalistik. Kaidah-kaidah tersebut
antara lain:
1. Tenik mencari berita
2. Teknik menulis berita (mencakup teknik menentukan
news values, membuat lead berita,
teknik piramida terbalik, bahasa jurnalistik).
3. Mengetahui teknik menulis untuk jenis media cetak
maupun elektronik.
4. Etika jurnalistik.
Perlu
digaris bawahi, penggunaan kaidah-kaidah jurnalistik sebagai landasan Public Relations writing, memiliki perbedaan dengan berita
yang ditulis wartawan pada umumnya. Perbedaan tujuan pemberian informasi ini
nampak pada berita media massa yang bertujuan memberi informasi kepada publik
sebagai sarana monitor sosial dan kontrol sosial. Sementara, Public Relations writing bertujuan
memberi informasi kepada publik dalam upayanya mempersuasi agar terjadi
perubahan sikap positif terhadap perusahaan. Menurut Kriyantono
(2008, h.23) peran Public Relations
dalam
publisitas dapat dirumuskan dengan kata kunci PENCILS dengan “P” yang berarti
Publicities, “E” yang berarti event, dan “N” yang berarti news lebih dalam lagi
mengenai jurnalistik dimuat dalam media yang berisi tentang fakta, news value
seperti special event, “C” Community Involvement yang berarti
melibatkan publik dalam programnya, “I” yang berarti Identity-Media yang
berarti bermitra dengan pers, “L” yang berarti Lobbying mengarahkan negosiasi
dan persuasi, dan “S” Social Investement yang membuat program bermanfaat bagi
publik atau masyarakat. Faktor yang pertama teknik Public Relations Writing, dalam bukunya yang juga berjudul
demikian, menurut Kriyantono (2008, h.94) Wisaksono Noeradi (Pakar PR senior
mengatakan bahwa 70% kegiatan komunikasi Public
Relations adalah menulis sisanya kegiatan komunikasi lainnya. Lebih lanjut
dijelaskan dalam Kriyantono (2008, h.95), Public
Relations writing didefinisikan sebagai “aktivitas menulis ataumembuat
produk-produk tulisan yang didesain untuk membangun dan menjaga hubungan
positif dengan publik yang dapat memengaruhi citra organisasi.” Karena itu,
tujuannya adalah menginformasi dan memengaruhi sikap dan perubahan perilaku
publik. Faktor yang kedua adalah hubungan media adalah sebagai alat, pendukung
atau media kerja sama untuk kepentingan proses publikasi dan publisitas
berbagai kegiatan program kerja atau untuk kelancaran aktivitas komunikasi PR
dengan pihak publik. Kerja sama dengan pers/ media akan menghasilkan frekuensi
publisitas yang cukup tinggi. Menurut Kriyantono (2008, h.71) semakin baik
kualitas hubungan antara Public Relations
dan media, maka semakin besar peluang informasi dimuat. Sinergi antara Public Relations dan media bersifat
simbiosis mutualisme, di mana media membutuhkan bahan-bahan informasi dari Public Relations dan sebaliknya Public Relations membutuhkan media
sebagai sarana penyebaran informasi. Menurut Saleh (2014) dampak pemberitaan
bersifat : efek keserempakan (stimultaneity effect), efek
dramatisir, efek publisitas tinggi, waktu relatif singkat, pembentukan opini,
khalayak yang sangat luas dalam waktu yang bersamaan. Membina hubungan media
dan Pers adalah suatu kegiatan khusus dari pihak PR untuk melakukan komunikasi
penyampaian pesan, atau informasi tertentu mengenai aktivitas yang bersifat
kelembagaan, perusahaan/institusi, produk dan hingga kegiatan bersifat
individual lainnya yang perlu dipublikasikan melalui kerjasama dengan pihak
pers/media massa untuk menciptakan publisitas dan citra positif” (Rosadi
Ruslan).
Sumber Pustaka Utama :
Kriyantono,
R. (2008) . Public Relations Writing : Teknik
Produksi Media Public Relation dan Publisitas Korporat. Jakarta :
Kencana
Sumber lain :
Saleh, A.M . 2014. Dasar PR : Media Relations. Diakses pada 5
April 2018, dari http://muwafikcenter.lecture.ub.ac.id/2014/04/media-relations/
Desta, R. (2018). Dasar-Dasar
Public Relations oleh Rachmat Kriyantono [Powerpoint slides]. Universitas
Brawijaya
Rainer, D. (2017). Pengertian HUMAS,
Fungsi, Tujuan, Prinsip, Tugas, Manfaat, dan Contoh Terlengkap. Diakses pada 28 Maret, dari http://www.spengetahuan.com/2017/09/pengertian-humas-fungsi-tujuan-prinsip-tugas-manfaat-contoh.html
Acitya. (2013). Penjernihan Istilah Lembaga dalam Dualisme antara Kelembagaan dan
Organisasi Memahami Pengertian Lembaga. Diakses pada 28 Maret 2018, dari http://acitya-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-74972-ArtikelAN-Pengertian%20Lembaga.html
Romli, A.S. (2015). Tugas dan Pokok (Tupoksi) HUMAS. Diakses pada 28 Maret 2018, dari http://www.komunikasipraktis.com/2015/04/tugas-pokok-fungsi-tupoksi-humas.html
Conita, Fetty. (2016). Tujuan dan Fungsi Humas. Diakses
pada 28 Maret 2018, dari http://onyet.note.fisip.uns.ac.id/2016/06/21/tujuan-dan-fungsi-humas/.
Bab II
Tinjauan Pustaka. (2011). Diakses pada 5 April 2018, dari https://www.media.unpad.ac.id/thesis/170820/2011/170120110503_2_6821.pdf
Satlita,
L. (2017). Reposisi Peran dan Fungsi Strategis Public Relations dalam
Organisasi. Diakses pada 5 April 2018, dari https://www.scribd.com/doc/174356371/Reposisi-Peran-Dan-Fungsi-Strategis-Public-Relations-0
Ambar. (2017). Etika Public Relations, Pengertian, Prinsip, Teori.
Diakses pada 5 April 2018, dari https://pakarkomunikasi.com/etika-public-relations
Tim Riset Penelitian. (2018). Perbedaan
Public Relations dan Humas pada Jurusan Ilmu Komunikasi angkatan 2013-2016
Komentar
Posting Komentar